Bukan kata “Orang Tua Dari Sejarah”

MINGGU lalu puisi membawa saya kembara ke Selatan pula. Cuaca indah, sambutan mesra. Saya baca tiga buah puisi di pentas siswa di Universiti Teknologi Malaysia. Janjinya saya hanya mendeklamasikan “Hidup Bersama” yang saya tulis sedekad lalu. Tapi, saya digalakkan—maka saya baca dua buah puisi tambahan: “Tikaman Dalam Seloka” dan “Orang Tua Dari Sejarah”.

Dengan bekalan royalti baca puisi yang sangat selesa, saya menyeberang ke Singapura. Sempat sarapan di Arab Street; sempat ke Masjid Sultan; dan kemudian sempat tenggelam hampir empat jam di pustaka buku seputar Orchard Road. Ghairah membeli buku “Malaysian Maverick” oleh Barry Wain yang tak terjual—atau terlarang—di negara saya.

Dalam bas ke Singapura, saya sempat membaca berita-berita genting tentang mesyuarat agung pertama Perkasa. Penuh semangat, penuh selaran—juga sindiran—oleh Perkasawan atasan. Melayu sedang dicabar—begitulah intinya. Tapi, saya terfikir juga, bukankah segelintir perkasawan Melayu itu sendiri yang mula mengacip martabat rajanya dulu. Sudahkah kau lupa atau masihkah kau ingat?

Aneh, kini kita pula diingatkan tentang bahaya yang kita ilhamkan sendiri.

Siapa pula pengingat ini? Sebelum benar-benar menelannya, wajar dan waraslah kita selongkari latar (depan-belakang) wira-wira kita itu. Kenapa perkasawan ini tiba-tiba muncul demikian garang sekali?

Siapa, ya, penegaknya yang jujur itu? Siapa, ya, yang sangat bermurah hati mendanainya? Siapa, ya, yang mula menjeritkan kesengsaraan kita ini?

Dalam kereta api pulang ke Kuala Lumpur, sempatlah saya mengunyah sedikit buku “Malaysian Maverick” oleh Barry Wain. Sangat menarik, walaupun kita wajar berhemah dan berhikmah sebelum menelan segala. Contohnya, tentang “kerugian” iktisad yang ditimbulkan selama dua bekas Perdana Menteri kita berkuasa. Waduuh, berbilion! Kata Barry Wain, ya, bukan kata saya!

Pemimpin utama negara kita sebenarnya didudukkan pada kerusi yang terhormat juga. Contohnya lagi (kata Barry Wain, bukan kata saya): “Dr. Mahathir was one of the most successful and enlightened.” (Halaman 342).

Tapi, kata Barry Wain, Lee Kuan Yew dan Goh Chok Tong “clearly outperformed him.” Sekali lagi bukan kata “Orang Tua Dari Sejarah” atau “Tikaman Dalam Seloka.”

About samadsaid

Writer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s