Sendirian di dalam Sebuah Masjid

KEHIDUPAN hanya bererti jika kita sendiri yang mencurahkan luhur makna ke dalamnya. Apakah yang kita inginkan dalam—atau dari—kehidupan? Sesekali duduk bergoncang dalam elarti, atau jalan berhenjut di celah khalayak, atau khayal tersengguk dalam kereta api, kita bertanya teka-teki ini. Sudahkah diisi kehidupan dengan makna? Sudah? Belum? Sangatlah murni pertanyaan falsafi—sangat menguji, sangat bermimpi.

Sendirian di dalam sebuah masjid—biasanya di Masjid Negara—sedapat-dapatnya dua hari seminggu, saya gemar mengimbas, merenung, mengupas dan menilai inti pengalaman kehidupan lalu. Derita dalam Perang Dunia Kedua; ghairah menunggu negara merdeka; terharu hadapi pilihan raya pertama; dan terluka menyaksi pemimpin bertelagah, saya cuba mengimbangi dacing peribadi. Sudahkah diri mengisi amal dan ibadah duniawi dan ukhrawi? Bukan sekadar saya—pemimpin juga!

Seorang tua berusia 75 tahun, bernafas selesa tengah keluarga, selalunya gemar—malah terbiasa—bertanya apakah telah terpikul beban tanggungjawab duniawinya?

Dan, apakah sudah juga padu terhimpun ibadah ukhrawinya?

Orang tua yang bersendirian di dalam sebuah masjid antara Asar dan Maghrib selalunya khusyuk menyukat—dalam ceteknya perut samudera; merenung—tinggi rendahnya gunung dan lurah; mengimbas—gersang suburnya gurun dan rimba; dan menilai—resah rianya sejarah diri. Orang tua itu selalu benar terketar menilai kehidupannya—gementar akan usia yang telah terbelanja, terketar oleh baki usia yang sangat tersisa, tercabar oleh ranjau kehidupan yang tak mampu diwaraskannya.

Apakah telah dipersembah khidmat dan ibadah demi ukhrawinya itu sesantun, sedamai dan semurni peribadi? Atau kita masih terus tergamak tamak dengan harta duniawi?

Benar, kehidupan akan hanya bererti jika insan sendiri yang berupaya mencurahkan makna ke dalam cangkir usianya. Yang rendah, menjengkit; yang tinggi, menunduk. Begitu pesan datuk nenek. Tapi, kita tidak bakal tahu juga apa maksudnya makna selagi kita masih terlupa menyanjungi amanah khalifah di bumi.

Sendirian di dalam sebuah masjid—biasanya di Masjid Negara—begitu diri teruja.

About samadsaid

Writer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Sendirian di dalam Sebuah Masjid

  1. pena marhaen says:

    luahan tulus seorang tua terbit dari jiwa,
    luahan orang muda terbit dari rasa.

  2. seorang tua dipandang mulia kerana ilmu,pengalaman, dan banyak amalannya,
    seprang muda dipandang tinggi kerana akhlak , budi dan kurang dosanya….

    di sisi Tuhan semulia insan adalah yg Bertakwa. Buatlah yg terbaik dalam hidup, kerana nilaian kita hanya padaNya.

    terima kasih Pak Samad atas cetusan yg bermakna.

  3. EDDIE OTHMAN says:

    laungan hati si tua terisi dengan bilah-bilah kalimah hakiki.Dipohon dipuji bersama iringan penyampai suci.Tunduklah si tua memohon hari agar sesaat nafas diberi mudah-mudahan dimasjid ini terhapus dosa sepanjang usia

  4. salam pak samad, usia meningkat sejajar dengan ilmu yang tersemat di dada. Lalu bagaimana ia digunakan.
    Allah rahmati mu :’)

  5. Ilyas Alnyalasi. says:

    Masa untok berdialog lansung dengan ALLAH SW,adalah D tiga suku malam.Tika hening ini tidak ada suara,kicauan burung,detum Meriam Besi beroda dua,dan segala hiruk pikuk Dunia.Tidak ada lagi imbasan silam kerna kita tahu pastinya HITAM.Kita hanya serahkan segala jiwa,raga,hati dan kekusyukan kita pada ALLAH YANG ESA.Allah maha Mendengar,maha Melihat,maha Mengetahui,Maha Mengasehani untok kita pohon SINARNYA untok kita menuju ke PINTU yang membawa kita ,…yang kita tak Tahu.Ya ALLAH,Ya RAHMAN,Ya RAHIM,Ya RABBAL’ALAMIN.

  6. Manan Qayyim says:

    sunguh indah madah..
    jenis apakah sastera begini? (ingin tahu)
    atau sekadar madah indah..

  7. sendirian di dalam sebuah masjid
    ada hayat untuk disukat
    punyai soal untuk dijawab
    dan ada amal untuk dihisab

    sendirian di dalam sebuah masjid
    ada khayal datang menyakat
    punyai beban tiada terangkat
    dan ada keinginan tiada terungkap
    sendirian di dalam sebuah masjid
    menghitung baki usia tersisa
    mencari makna kehidupan di buana
    mengimbas setakat mana tanggungjawab dilaksana

    sendirian di dalam sebuah masjid
    bagi diri seorang tua
    merasa sangat teruja
    didalam mencari makna
    kehidupan yang dilaluinya.

  8. mdyasin says:

    Juga tazkirah untuk saya…..wassalam pak.

  9. Norazimah Abu Bakar says:

    As’salam Bapak….yea begitu la juga nanti saya pada usia begitu. Luahan seorang seorang tua yang penuh dengan pengetahuan dan pengalaman. Melihat kembali diri!

  10. zulkifli says:

    salah ku seperti paku yang tercucuk di kayu…walau dicabut paku masih terkesan pada si kayu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s